Rabu, 12 April 2017

Jagung Bakar 2

Jagung Bakar II

   Tiga puluh tahun berlalu, rindu akan suasana

 kampung halaman terasa memanggilku untuk 

pulang.  Suara Air sungai yang di selingi 

gemerisik pohon bambu menambah dalam 

rasa rindu ini.  Di tambah lagi aroma masakan 

yang masak mengunakan  hau atau kayu 

bakar.  Serasa lidah ini tidak bisa diam untuk 

mengunyah berbagai macam makanan yang di  
sodorkan kepadaku...semua serba alami ala 

alam pedesaan.  Tak terasa air mata ini 

menetes mengingat kenangan manis dengan 

orang-orang yang kini sudah tiada.
    
    Minggu pagi ini ku paksakan untuk 

mengunjungi tanah kelahiran kedua orang 

tuaku.  Dengan berbekal alamat salah seorang 

kerabat, demgan semangat 45 ku memacu 

Avanza kesayanganku.  Untung sudah ada 

jalan bebas hambatan walaupun

bebas sepenuhnya, tapi minimal bisa 

mempersingkat waktu dan tenaga kalau tidak 

mau sampai jam berapa sampai ke rumah teh 

Ina salah satu kerabatku yang terkenal ganjen 

dari kecil...gosipnya dia sudah 3 kali menikah!!!

"Oh my God! Gue aja satu belum dia sudah 

berkali-kali...hadeuh!" Senewen juga kalau 

ingat ceritanya.
   
   Jam di dasbor mobil sudah menunjukan 

angka 8.45 berarti tinggal sesaat lagi sampai .  
Sudah banyak perubahan yang terlihat, sambil 

istirahat sejenak ku parkir mobil di salah satu 

minimart yang banyak menjamur saat ini. 

 Keluar dari minimart tersebut tidak sengaja 

mataku tertuju pada seorang lelaki tua yang 

menjual jagung untuk di bakar. Mengingat 

besok akan pergantian tahun, dan seperti 

biasa acara bakar jagung dan bakar kembang 

api menjadi tradisi.  Ku dekati bapak tua itu 

yang asyik ngobrol dengan beberapa supir 

truk.

"Berapa harga jagungnya, Pak?" tanyaku.

"10 biji dua puluh ribu aja, Neng!" sautnya.

"Mahal amat pak!" gerutuku.

"Kalo mau enak usaha jagung bakar sendiri, 

Neng" seru beberapa supir truk kompak.

Melihat situasi yang kurang nyaman langsung 

aku berlalu tanpa melihat si penjual jagung.

   Sesampainya di rumah teh Ina dengan 

sedikit basa-basi ku ceritakan kejadian tadi 

yang bikin telinga panas...tak di sangka teh Ina

 dan Mang Darmin ayahnya teh Ina tertawa. 

 Langsung saja ku cecar dengan pertanyaan, 

mengapa mereka tertawa.

Mang Darmin menerangkan bahwa di 

kampung kami ada istilah produksi jagung 

bakar yang artinya "janda tanggung baru 

mekar"...langsung merah padam 

mendengarnya. Entah siapa yang memulainya

tetapi sekarang daerah kami terkenal dengan 

istilah itu. Hadeuh..!

1 komentar: