Selasa, 09 Mei 2017

AKU MASIH ADA

    Pekerjaan memandikan Bima baru saja dimulai ketika Tiwi asisten rumah tanggaku mengabarkan kalau Bu Melia ibu mertuaku dalam perjalanan ke rumah ini.  Dalam sehari dua kali acara mandi bola dan pesta air  dilaksanakan,  setiap  pagi jam setengah tujuh acara pesta air dimulai. Marsel dan Bima biasanya mandi seperti orang yang kehujanan karena keran pancur dibuka sampai pol mereka akan bersorak kegirangan. Saat keluar kamar mandi euforianya seperti gladiator menang melawan musuh, dengan handuk yang masih melingkar di tubuh mereka Marsel akan memanggul Bima seperti beras. Bintang memang menyiap dua handuk yang sewarna dan ukuran yang berbeda untuk mereka berdua.  Entah bagaimana bisa kamar mandi ini seperti  kebanjiran, airnya bisa meluap sampai keluar kamar.

  Mandi sore lebih seru lagi biasanya habis shalat ashar Bintang menyuruh Tiwi untuk menyiapkan kolam dari karet yang berisi bola dan air di halaman belakang. Bayi berusia tujuh bulan ini memang senang menunjukan jati dirinya.
Kalau sudah seperti ini Bu Melia sang nenek akan ikut bermain bola bersama sampai basah. Jika sudah begini Tiwilah sasaran empuk untuk di suruh.

  Bintang baru saja selesai merapikan  Bima ketika terdengar suara mobil memasuki halaman diiringi suara teriakan si kembar memanggil,
"Ade Bimaa"
Bima yang menyadari akan kehadiran sepupunya langsung berteriak senang sambil menggerak-gerakan tangannya minta digendong.

"Hai mam, apa kabar...sehat ya" kata Bintang sambil mencium tangan dan pipi ibu mertuanya.

"Cucu uti, ko jadi item kemana aja sih seminggu ga ketemu kangen deh!" ungkapan kangen dari Bu Melia yang berlebihan.

"Tuh cucu kesayangannya pulang, seminggu ditanyain terus sampai pusing dengernya" kata Mba Mey mengambil Bima dari gendongan Bintang tercium wangi bayi dari tubuh ponakannya yang montok.

"Tenang uti, kita masih disini ga kabur koo" kata Bintang tertawa.

"Tante kelincinya punya siapa, untuk kita boleh yaa" pinta si kembar sambil jongkok  di samping kandang berusaha memberi makan.

"Oh om beli waktu ke Bandung, kalo mau bawa aja kak" kataku, dalam hati Bintang merasa senang karena berkurang satu tugas merawat hewan.

Mereka langsung bersorak dan meminta supirnya untuk memindahkan kandang kelinci ke mobilnya.

"Habis magrib Bintang mengajak makan ibu mertua, iparnya dan si kembar makan.
Tidak lama berselang Marsel dan Mas Tok datang untuk bergabung.
Ibu, anak dan cucunya cerita seolah tidak berjumpa selama puluhan. Mereka tidak menghiraukan keberadaan Bintang, andai saja ku bisa teriak menyadarkan ...
"Haloo aku masih ada, ini rumahku loh"

Tapi semua itu tidak dilakukannya hanya karena alasan tidak enak sungkan.
"Marsel juga ga punya perasaan masa istrinya di anggurin" batinku gemas melihat tingkah polah suami dan keluarganya.

Malam ini Bintang menghampiri suaminya dan menanyakan
"Mahy akhir minggu ini ada acara, anter aku belanja bulanan yaa"

Marsel yang masih membaca laporan kantor, menjawab sekenanya tanpa melihat istrinya.
"Oke jam berapa"

Belum sempat Bintang bertanya lagi, Bu Melia menyela minta diantar ke rumah adiknya di Bekasi.
"Duh alamat ga bisa istirahat deh" umpatnya dalam hati menahan kesal.

  Lagi-lagi Marsel dan ibunya tidak menghiraukan keberadaan Bintang, dengan langkah gontai Bintang memutuskan untuk tidur menemani buah hatinya. Untung masih ada Bima, gumamnya sambil menerawang.

  

Senin, 08 Mei 2017

WE ARE BIG AND HAPPY FAMILY

   Sepulang dari acara liburan keluarga kecilnya, akhirnya Bintang sudah bertekad akan tetap mengutamakan janji sucinya kepada Marsel lelaki yang telah memberikannya peran sebagai seorang ibu. Fokus membahagiakan keluarga tanpa syarat apapun.  Akhirnya semua dia serahkan hanya kepada penguasa hidup tempat mencurahkan isi hatinya, tempat bersujud mengadu  kepada-Nya.
  
   Apapun perkataan dan sikap dari Bu Melia sebagai mertua serta ipar-iparnya sekarang dia mulai terbiasa anggaplah lantunan musik acapela, biar tidak beraturan tetapi hasil akhir tetap bisa mengeluarkan bunyi yang indah.

  Akhir minggu ini rencananya Bintang dan Marsel akan mengadakan pesta kejutan untuk ibunya namun jadwal Sabtu ini Bintang juga harus  ke dokter kandungan untuk mengecek kondisi dirinya yang sudah  sebulan tidak kedatangan tamu. Mereka berharap tidak ada yang perlu di kuatirkan karena ini adalah program mereka berdua setelah bulan madu keduanya. 

   Bergegas Marsel menjawab telpon masuk dari kakak tertuanya, suara nyaring dari sebrang sana seakan  menyadarkan siapa yang akan menjaga Bima jika mereka jadi ke dokter.

" Terus gimana rencananya, Bima ga mungkin dibawa ke sini mama bisa curiga" kata Mba Mey.

   Sabtu sore ini Marsel sudah mengarang cerita agar bisa mengantar Bintang ke dokter

"Mam, Mas sama Bintang mau keluar sebentar mau ke rumah temannya Bintang anter gambar.  Mama ditemani Tiwi ya" bujuknya sealami mungkin.

"Bima dibawa juga" ujarnya penuh selidik.

"Ga mam, makanya minta tolong Tiwi untuk bantuin mama jagain Bima" kata Bintang menenangkan.

"Lagi pula cuma sebentar" jawab Marsel meyakinkan ibunya.

Untuk Bu Melia asalkan Bima disampingnya dia akan merasa nyaman.
Setelah berbagai alasan diluncurkan akhirnya mereka bisa pergi tanpa dicurigai.

  Sesuai rencana semua yang berkaitan dengan hidangan diserahkan kepada kedua kakanya dan Icha yang sedang sibuk pacaran tidak mau ketinggalan menyiapkan kejutan untuk ibu tercinta.

Jam sudah menunjukan pukul tujuh tetapi namanya belum juga dipanggil sementara kedua kakanya sibuk menanyakan keberadaan dirinya.

   Akhirnya tidak berapa lama kemudian namanya dipanggil.  Sesuai harapan untuk memberikan adik kepada Bima, dokter menyatakan Bintang positif hamil. Hanya saja kehamilan yang kedua cukup unik disamping faktor usia yang agak riskan untuk melahirkan dan kedua calon bayinya di perkirakan kembar jadi dokter memintanya untuk banyak istirahat.
 
Dalam perjalanan pulang Bintang sibuk menghubungi keluarga suaminya untuk acara kejutan ultah ibu mertuanya. Marsel sengaja memarkirkan mobilnya tidak jauh dari rumah, sementara keluarga kedua kakaknya sibuk menata konsumsi di halaman depan.

   Akhirnya waktu yang dinanti itupun tiba, Marsel mematikan saklar utama sehingga lampu rumah padam sementara lilin mulai dinyalakan.
"Tiwiii urus listriknya dulu, gelap nih kasian Bima" teriakan ibunya mulai terdengar.

Tiwi kaget saat membuka pintu karena sudah ada Marsel dan keluarganya serta nyala lilin di halaman.
Tetapi Tiwi tidak melihat Bintang kemana perginya sang empunya rumah.

"Wi, masuk lagi jangan bilang uti yaa" perintah Marsel dengan suara berbisik.

"Tiwiii lampunya kenapa" suara Bu Melia menggema sementara Bima mulai gelisah.
Dengan nada kesal akhirnya Bu Melia keluar dengan membawa senter, belum sempat lampu dinyalakan sang bunda menangis terharu melihat anak-anak berkumpul dengan membawa lilin ulang tahun.

"Suurpriise" teriak anak-anaknya kompak.

Lampu sudah dinyalakan semua anak-anak serta cucu-cucunya memeluk dan mencium pipi wanita baya ini bergantian diiringi ucapan dan lagu ulang tahun,  namun sama sekali dia tidak melihat Bintang.
"Mas, Bintang mana" kekawatiran terdengar dari suaranya.

Semua terdiam, kepanikan terlihat jelas di wajahnya. Akhirnya dari dalam rumah munculah Bintang diiringi Tiwi yang menggendong Bima. 

"Happy milad uti, semoga diberikan umur yang berkah biar bisa membimbing kita semua" ucapnya sambil mencium pipi dan memeluknya tidak ketinggalan sang cucu emasnya Bima yang kini punya hobi meniru siapa saja.

Tiba saatnya pemberian kado ulang tahun, Mba Mey dan keluarga memberi hadiah  daster Bali, Mba Isye memberikan tas dan kelom gelis sandal kayu dari tasik dan Icha yang memproklamasikan kekasihnya memberikan hadiah gamis.
Terakhir Marsel menyuruh Bima memberikan hadiahnya.

"Ayo nak kasih ke uti" bujuk Marsel kepada Bima namun Bima malah memegang erat hadiah tersebut.

Gelak tawa menghiasi malam itu. Dengan terpaksa akhirnya Bima menyodorkan bingkisan berupa perhiasan cincin bermata mutiara hitam kepada Utinya.

Disaat makan malam dimulai, Bintang menghampiri ibu mertuanya dan mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.

"Ini hadiah tambahan untuk mama dari
Bintang" seraya menyodorkan kotak kecil panjang didalam amplop.

Semua mata tertuju kepada keduanya, tak ayal Marselpun ikut penasaran.

"Uti buka dong kita mau lihat tante kasih hadiah apa" teriak si kembar.

Akhirnya amplop panjang berwarna putih dibuka, seketika Bu Meilia menangis terisak Marsel menghampiri dan merangkul ibunya.

"Iki opo nduk" kata ibu mertuanya melihat alat tes kehamilan yang bergaris dua serta foto hasil usg empat dimensi.

"Mam, maaf ya tadi kita berbohong karena mau cek kandungan" kata Bintang menahan haru.

"Bima mau punya ade, dua sekaligus" kata Marsel sambil mengelus perut istrinya.

"Alhamdulillah, selamat ya Tang" mereka berebut memberikan selamat kepada Bintang.

  Pada akhirnya mereka menyadari bahwa hanya Bintanglah yang bisa memenangkan hati ibunya,
" Kamu hebat Tang, cuma kamu yang di panggil kesayangan nduk sama mama" jelas Mba Mey haru.

Allah tidak melihat hasil akhir tetapi prosesnya yang dinilai. Bintang hanya tersenyum didalam hati bila mengingat semua.

JANJIKU

   Perjalanan panjang ini sebenarnya cukup melelahkan tetapi karena hati ini sedang berbunga-bunga jadi kubuang saja ditengah jalan. Kebersamaan kami seakan terbayar dengan liburan ini, Marsel mampu menunjukan kepemimpinannya sebagai suami, ayah dan juga bos.  Tetapi jangan berharap jika sudah berada di tengah ibu dan saudari-saudarinya, langkahku bisa stag dibuatnya. Mematung menunggu komando selanjutnya.

   Bintang wanita temperamental ini harus berusaha mengelola emosi demi janji suci dan cintanya kepada Marsel suaminya serta Bima buah cinta mereka berdua. Segalanya harus disyukuri biar bagaimanapun menikah dengan anak lelaki semata wayang harus bisa menerima resikonya, kelak mungkin hal yang sama akan terjadi pada Bintang. Berjanji pada diri sendiri memang lebih sulit dibanding dengan orang lain.

  Tepukan tangan Marsel menyadarkan bahwa dirinya masih duduk manis disamping sang suami yang sedang menyetir.

"Ngapain bengong, mikir apa ayo!" seru Marsel jenaka.

"Ga terasa ya Mahy, sepertinya baru kemarin kita menikah ternyata hampir dua tahun" ungkapan dari hati yang tulus.

Kejujuran Bintanglah yang membuat Marsel merasa kuat bertahan hidup diantara tekanan ibu dan saudari-saudarinya.

"Banyak bersyukur ya Bive, jangan perdulikan orang lain karena aku dan Bima berhak menikmati kebahagiaan bersamamu" senyum Marsel menguatkan istrinya.

   Bima yang terlelap dipelukan Bintang seakan bisa merasakan kebahagiaan wanita yang melahirkannya.

   Mobil yang dikemudikan Marsel sudah memasuki jalan tol Cawang sebentar lagi kami akan tiba di istana yang penuh dengan cinta. Marsel menyodorkan ponselnya yang berbunyi sedari tadi, terlihat tulisan mama di layar.

"Assalamualaikum mam, kita baru ditol Slipi mama mau di jemput sekarang atau gimana?" tanya Bintang tanpa meminta persetujuan suaminya.

"Wa alaikumussalam Tang, gimana kabarnya...Mas mana?" tanya ibu mertuaku.

Marsel memberi isyarat kepada istrinya untuk membesarkan volume ponselnya. "Alhamdulillah baik mam, ini Bima tidur belum bangun terus Mas lagi nyetir" suara Bintang terdengar segar.

"Hai mam, mo dijemput sekarang tapi betahkan di rumah Mba" pertanyaan Marsel tanpa henti.

"Jangan Mas nanti aja dianter sama Mba, kasian kamu pasti capek" suara Marsel anak emasnya membuat Bu Melia jadi semangat.

"Oke ketemu di rumah yaa, bay mam" salamnya mengakhiri pembicaraan.

Alhamdulillah, rupanya Tiwi sang asisten rumah tangga sudah mulai bekerja lagi terlihat dari halaman serta dalam rumah yang rapi bersih serta harum.  Bertambah senang Bintang dibuatnya,

"Assalamualaikum, rumah aman Wi" kata Bintang memasuki rumah sembari menggendong Bima yang masih tidur.

"Wa alaikumusalam. Alhamdulillah semua aman, Bu. Kemarin uti kesini terus nyuruh saya membersihkan rumah sama nyiapin masakan" lapor Tiwi kepada majikannya.

   Alhamdulillah, sejujurnya walau terkadang sikap ibu mertuanya kurang menyenangkan tetapi harus diakui cintanya kepada anak dan cucunya sangatlah besar.  Sikap tegas mertuanya dianggap sebagai perhatian agar Bintang bisa mengurus anak dan cucunya dengan baik.
 
   Janjiku selalu kuat sampai akhir hayat akan memberikan yang terbaik untuk Marsel dan Bima, serta keluarga besar kami. I love you all..

Sabtu, 06 Mei 2017

BOYONGAN 2

    Masalah yang tengah dilanda Bintang memang butuh waktu dan usaha yang cukup memakan perasaan.  Bayangkan saja jika selama ini dia harus mengolah emosi ketika berhadapan dengan Bu Melia ibu mertuanya, sekarang lebih ekstra tegar karena dua kubu yang dihadapi...keluarga Marsel dan keluarganya sendiri.

   Terkadang Bintang bingung jalan tengah seperti apa yang bisa membuat kedua keluarga besarnya menjadi akur tanpa konflik yang berkepanjangan.  Bintang mencoba adil dengan berdiri di tengah tanpa memihak siapapun, tetapi tetap saja suara sumbang itu masih terdengar.

"Si Bintang itu bilangnya aja ada di tengah ga mihak siapapun, dia itu muna..nyari aman" ujar ipar-iparnya.

"Bive, biarin aja jangan terlalu ngotot kamu ga bisa berharap semua harus damai seratus persen" ujar Marsel menenangkan istrinya.

   Bintang berusaha untuk tutup kuping dengan suara sumbang, yang penting sekarang dia tengah menikmati kebahagiaan di tengah keluarga kecilnya...ada Marsel suaminya dan Bima buah hatinya.

"Mahy liat deh lucu ya" ujar Bintang melihat Bima yang tidur pulas di tengah mereka berdua.

"Kalo liat Bima tidur kaya ini bikin ga tega, tapi jika sudah ngambek bikin gemes kaya mboknya pengen digigit aja pipinya" ujar Marsel melihat Bima tidur miring dengan tangan sebagai bantalnya.

   Bintang tengah membereskan barang bawaannya untuk persiapan pulang. Tidak terasa sudah tengah hari, kalau tidak ingat besok Marsel sudah mulai kerja lagi malas rasanya kembali ke Jakarta.

   Rencana jika sudah menyelesaikan tugas pengepakan, Bintang ingin memejamkan mata sebentar mumpung Bima masih tidur siang.  Tengah asik meregangkan tubuhnya, Marsel memanggil

"Bive sini deh, tadi ke pasar sama temen-temen terus di tengah jalan lihat kelinci lucu deh...Bima pasti suka" ujarnya sambil memperlihatkan sepasang kelinci dengan mata bercahaya.

"Iya lucu banget...terus siapa yang ngurus" kata Bintang bergelayut manja sambil meruncingkan mulutnya.

Marsel memang hapal luar dalam kalau istrinya tidak suka memelihara hewan, lebih suka menikmatinya.

"Tenang sayaang aku yang urus" ujar Marsel meyakinkan istrinya walau pada kenyataannya bukan dia yang mengurus.

"Kita nanti makan siangnya di tengah sawah, waktu tadi lewat ruang makan lihat menunya enak  dan wangi" ujarnya sambil menjilat bibirnya.

Bintang baru saja akan beranjak ketika Marsel menanyakan sesuatu,

"Gimana menurut Bive kalo kita perpanjang nginep satu atau dua hari lagi, anggap aja bulan madu kedua. Kalo ada ibu di tengah kita, aku pusing sendiri!" ujarnya sambil mengernyitkan dahinya.

"Besok emang ga kerja" ujarku memancing reaksinya sebenarnya tanpa diperintahpun aku pasti sudah lompat kegirangan.

"Aku yang punya perusahaan jadi ga masalahkan?" jawabnya dengan mimik lucu.

   Marsel meminta staffnya untuk menyelesaikan proyek yang tengah digarapnya karena dia akan cuti selama dua hari, alasan untuk ibunya juga tengah dipersiapkan.

"Yess akhirnya Tuhan mendengar doaku yang tengah galau dengan keadaan!" serunya dalam hati. Aamiin...

Boyongan 1

   Sejak kejadian Bima buah hati Bintang dan Marsel jadi selebritis dadakan sekarang keluarga kecil mereka punya tradisi baru. Setiap hari Minggu pagi acara sarapan berpindah-pindah mulai dari pasar apung, pasar segar atau kaget dan biasanya anggotanya bertambah. Awalnya Icha, terus Mbak Mey sampai keluarga Aa Rudy...seru euy!
  
   Bima yang kini bobotnya sudah naik tiga kilo dari berat semula tiga setengah kilo.  Bisa dibayangkan dalam tiga bulan berat badannya menjadi enam setengah kilo, beban yang cukup berat untuk digendong.  Padahal asupan Bima hanya ASI saja apalagi jika ditambah dengan makanan pendamping ASI seperti bubur dan buah, mungkin Bintang perlu tenaga serep untung menggendongnya.
 
   Senang diajak berinteraksi dengan diapa saja yang mengajaknya berbicara dan tertawa membuat Bima disukai setiap orang mungkin ini warisan dari wataknya Marsel. 

   Setiap ada acara Bima bisa pindah dari satu gendongan ke gendongan yang lain seperti piala  bergilir boyongan istilah ibu mertuaku. Karena begitu menyayangi cucunya sampai-sampai kalau Bima pindah mobil Bu Melia sang uti panggilan nenek dalam bahasa jawa, pun akan ikut boyongan juga. Jadi dimana ada Bima disitu pasti ada utinya.

"Taang, Bima gue pinjam dulu ya"  ujar Teh Rima sambil memboyong junior ke dalam mobilnya.
Entah bagaimana awalnya sehingga sang uti  sudah hadir lebih dulu di dalam mobil.

Terkadang Bintang merasa tidak enak dengan kakak-kakaknya yang belum paham dengan watak mertuanya.

"Tang sini deh" ujar kakakku sambil menunjuk dengan ekor matanya melihat ibu mertuaku yang sudah duduk manis di mobil Teh Rima.

"Takut ya cucunya diambil, ga percaya banget sih!" kata Teh Rima lagi dengan nada ketus.

"Ga lah, teh. Maklum cucu emas jadi kuatir aja" gurau Bintang dengan senyum terpaksa.

   Awalnya boyongan yang menjadi kegiatan yang menyenangkan lambat laun menjadi ajang unjuk emosi.
Kakak dan keponakan Marsel mulai menaruh kecurigaan kepada Bintang, dipikirnya sengaja memanfaatkan mertuanya atau komplain karena utinya lebih menyayangi Bima dibanding cucunya yang lain.

   Berbagai cara sudah dicoba Bintang, sampai pada suatu hari

"Mam, besok Sabtu Bintang dan Bima Mas ajak  acara kantor family gathering ke Bandung.  Nanti mama ditemani Mba May ya lagi pula kasian tuh si kembar kangen sama utinya" bujuk Marsel dengan sepenuh hati.

Jika Marsel yang memberi perintah Bu Melia tidak bisa berkutik walaupun  berat hati.  Menurut Bintang ini sangat buruk untuk kejiwaan ibu mertuanya tetapi dia juga harus melihat kenyataan yang ada...berbagi dalam hal kasih sayang.
  
   Bintang menikmati kebersamaan dengan keluarga kecilnya...dia berharap semoga hal ini bisa membuat sang uti tersadar bahwa cucunya yang lain juga perlu kasih sayang dan perhatiannya.

Kamis, 04 Mei 2017

BOSAN

   Pagi ini Bintang mengawali hari dengan berdoa memohon pada yang kuasa untuk keselamatan diri dan keluarganya.  Udara pagi yang masih membeku membuatnya malas untuk beraktifitas ingin rasanya menarik selimut bergabung tidur lagi
dengan Marsel suaminya dan buah hatinya Bima.  Melihat kedua jagoan terlelap bersama mimpi membuatku merasa iri, seandainya...

"Braak!" suara benturan kursi dan meja membuatku dan Bima terhenyak.

   Cepat-cepat kuusap punggungnya sampai tenang agar tidak terbangun, karena kalau sampai terbangun bisa terkuras seluruh jiwa ragaku. Tangisan Bima bisa mengalahkan suara petir memekakkan telinga. Perlahan kubuka pintu kamarku sedikit demi sedikit, kulihat Bu Melia ibu mertua sedang duduk melamun di ruang makan.

"Maam...mama, mama" kuulang sampai tiga kali baru tersadar.

Kuhampiri mama yang sedang menangis,
"Taang maafin mama ya..." isak Bu Melia diantara ucapannya.

Bintang semakin tidak mengerti dengan suasana hati ibu mertuanya yang sedang galau padahal tadi sebelum tidur tidak ada yang aneh.  Dicobanya dengan memberikan pelukan untuk menenangkan hati Bu Melia. 

"Mama mau cerita kenapa jadi sedih" ujar Bintang membujuk sembari mengelus punggung ibu mertuanya.

"Mama pingin pulang ke Serpong, boleh yaa?" pintanya dengan air mata membasahi pipi.

Bintang mulai trenyuh dengan permohonan ibu mertuanya.
"Mama kangen sama rumah atau sudah bosan disini..." ujar Bintang menghentikan perkataannya karena baru tersadar kalau ia salah bicara.

  Bu Melia hanya menggeleng sambil terisak menatap sendu menantunya.
"Mama kangen, pengen nyekar ke makam papa karena sejak Bima lahir sudah ga pernah. Apalagi kita sudah mau puasa" jelasnya terisak-isak.

"Oke nanti kalau Mas bangun mama sampaikan aja yaa" kataku penuh kelembutan.

"Mama sudah ngomong tapi Mas ga ngeladenin, cuma diem aja ga bersuara" akhirnya tangis itu pecah.

Oh rupanya diam-diam mama menyimpan kekecewaan yang mendalam pada anak emasnya. Pantas sejak beberapa hari ini, habis makan malam Marsel suaminya langsung membawa Bima bermain di kamar. 

"Ya deh Bintang janji akan bilang langsung sama mas, bantu doa ya" bujukku sambil menuntun Bu Melia kembali istirahat ke kamarnya serta mengingatkan sudah azan subuh saatnya shalat.

   Bintang bergegas ke kamarnya untuk membangunkan Marsel yang masih tertidur  lelap. Setelah beberapa saat suamiku baru terbangun dan bergegas menuju masjid, begitu juga diriku sesegera mungkin berwudlu dan shalat.

   Kudengar suara Marsel memasuki rumah,
"Assalamualaikum, kopinya sudah ya" ujarnya sambil menarik cangkir yang sudah diseduh kopi.

"Wa alaikumussalam, sabar tuan. Hati-hati masih panas" ujar  Bintang sambil melotot ke arah suaminya.

   Kucoba mengajak suamiku untuk jalan-jalan pagi sambil cari sarapan bersama Bu Melia dan Bima. Awalnya Marsel menolak tetapi gaya meyakinkanku mampu meluluhkan hatinya.

   Jadilah pagi ini kami berempat berjalan-jalan ke pasar modern Serpong untuk makan baso ikan. Saat di halaman parkir ada beberapa pasangan muda juga membawa anak menyapa Bima lucu dan menggemaskan.  Melihat hal ini Marsel seakan menemukan sensasi baru dengan kehadiran Bima, ada kebanggaan  menyeruak saat anaknya jadi pusat perhatian. Beberapa orang tua sepantaran ibu mertuaku juga memuji keberadaan Bima, kontan air wajah mertuaku berubah senang.  Bintang mulai merasakan aura bahagia dari kedua keturunan ini, suami dan mertuaku. 

  Ternyata mudah menghilangkan rasa bosan dan sikap egois keduanya, Bimalah pengobat semua kebosanan itu. Kubiarkan mereka bertiga jadi selebritis...

Selasa, 02 Mei 2017

WONDER WOMEN

   Sejak hadirnya Bima ditengah-tengah keluarga kecil itu membuat Bintang sang ibu seperti kehabisan waktu, tidak cukup dua puluh empat jam sehari bila perlu jadi seratus jam sehari. Tugas dari bangun tidur memberikan ASI lanjut dengan urusan rumah tangga sampai menyiapkan keperluan Marsel suaminya yang akan ke kantor.  Belum lagi ditambah suara merdu Bu Melia, ibu mertua yang selalu intervensi dengan segala pekerjaannya.

"Bive, nanti aku pake jeans yang coklat aja ya karena mo ke proyek" pinta Marsel untuk mengganti celana kantor dengan jeans.
Baru saja selesai menyiapkan keperluan Marsel terdengar pintu kamar diketuk diselingi suara Bu Melia memanggil,

"Tang, itu tukang sayur dah dateng kamu jadi belanja ga?"

"Ya mam jadi, suruh tunggu dulu ya" ujar Bintang sambil membuka pintu kamarnya.
   
   Dalam hati dia mengutuk asisten rumah tangganya si Tiwi yang sudah jam setengah tujuh belum datang, biasanya jam lima sudah nyapu halaman.  Diantara kekesalannya dilihat lima panggilan tak terjawab di ponselnya semua dari nomor yang tidak dikenal. Bintang berpikir kalau butuh dia juga akan telpon lagi. Belum selesai transaksi dengan tukang sayur, mertuaku sudah memberitahu melaui suara nyaringnya.

"Taaang, gasnya habis terus gimana mau masak nasi goreng untuk Mas!" serunya panik.

"Bentar ya mam ini mo telpon tukang gas" jawab sambil menelpon agennya, untung dia mau anter sekarang.

"Ada apa sih mam, masih pagi sudah teriak-teriak nanti kalo Bima bangun gimana" ujar Marsel menenangkan Bu Melia.

"Bintang sih ngadelin pembantu terus sekarang giliran dia ga ada, jadi bingung kan" jawab Bu Melia meluapkan emosi.

"Ya udah ga usah repot, nanti sarapan roti aja" suara Marsel terdengar agak kesal melihat ibunya mulai mengganggu kenyamanan keluarganya.

Ponsel Bintang berbunyi lagi kali ini sudah delapan panggilan, Marsel menghampiri istrinya.

"Ada apa Bive, ko ponselnya ga dijawab" sambil mengambil ponsel dari tangan Bintang.

"Ga tau dari tadi telpon bunyi terus tapi nomornya ga dikenal" ujar Bintang sekenanya.

Marsel menekan tombol redial tidak lama tersambung dan tanda speakerpun ditekannya juga.

"Halo Bu Bintang saya suaminya Tiwi, mo ngabarin bu kalo Tiwi ga bisa kerja karena anaknya masuk rumah sakit kena DBD" terdengar suara suami Tiwi di ujung sana menjelaskan dengan semangat.

"Ya sudah, urus anaknya dulu aja nanti siang ibu mo ngomong sama Tiwi" ujar Bintang berusaha memaklumi kondisi Tiwi.

"Bive, kayanya aku perlu cuti deh selama Tiwi ga ada" kata Marsel kuatir.

"Ga usah sayaang, aku masih sanggup...tenang aja" jawabku sambil tersenyum meyakinkan Marsel.

   Kalau sampai ibu mertuaku tahu bisa panjang kali lebar urusan harga diri ini, disangkanya aku menantu yang tidak bisa apapun.
  
   Setelah melepas kepergian suaminya ke kantor, Bintang mulai mengatur strategi hal apa yang harus diprioritaskan.  Pertama dia mulai dengan memasukan pakaian ke mesin cuci, lanjut urusan menyiapkan Bima dari urusan berjemur, mandi, sampai rapi dan wangi.

   Seperti biasa Bintang selalu melibatkan Bu Melia sang nenek untuk menemani cucunya bermain, hal ini yang paling disukai ibu mertuanya.  Kalau sudah begini tugasnya yang lain hanya memejamkan mata karena semua tinggal tekan tombol dari masak nasi, mencuci sampai urusan lantai. Hanya menyetrika dia minta bantuan laundri kiloan. Dan tentunya memasak yang harus disambi saat Bima tidur.  Walau kelihatan capek tetapi inilah kebahagiaannya menjadi ibu rumah tangga.

   Jam menunjukan pukul empat sore kudengar suara mobil Marsel memasuki halaman bersamaan dengan selesainya aku memandikan jagoanku

"Assalamualaikum, halo juniorku" sapa Marsel kepada Bima yang tersenyum melihat kehadirannya.

Tiba-tiba Bu Melia muncul dari dapur sambil teriak,
"Mas, jangan main pegang aja tangannya kotorkan...cuci tangan dulu!"

"Ya mam, Bima aja ga protes yaa... malah uti ngomel terus"  ujar Marsel menggoda anaknya sambil mencuci tangan.

"Mahy, ko pulangnya cepat?" tanyaku sambil menyerahkan jagoannya.

"Kan cuma ke proyek itu juga ngecek aja, selebihnya ada mandor yang ngawasin" jawabnya sambil menimang Bima.

Sementara Bintang merapikan bekas mandi Bima, Bu Melia mengingatkan anaknya agar mencari nafkah yang giat kalau urusan rumah tangga dan pengasuhan anak itu bagiannya istri.
Sebenarnya Marsel ingin mendebat sang ibu tetapi Bintang memberi isyarat dengan menggelengkan kepala.

   Lelahku hari ini seakan menguap melihat buah hati kami tertidur lelap dipelukan ayahnya.  Aku bukanlah wonder women tetapi cinta dan perhatianmu yang membuatku jadi wonder women...
  

  

Senin, 01 Mei 2017

WELCOME TO MY HEART

   Sore ini, setelah tujuh jam masa peralihan akhirnya Muhamad Bima Pradana bayi laki-laki buah hati Marsel dan Bintang sudah bisa ikut bergabung dengan keluarga besarnya. Bima begitu panggilannya memiliki tubuh yang montok untuk ukuran bayi prematur, dengan berat tiga koma lima dan panjang lima puluh satu lebih tepatnya seperti raksasa pantas kalau dinamakan Bima dewa bertubuh tinggi besar dan kuat. Tetapi nama Bima adalah kependekan dari Bintang dan Marsel.

   Pintu kamar 701 diketuk dan masuklah suster yang mendorong boks bayi berisi pangeran Bima yang sedang tertidur lelap. 
"Sore nyonya Bintang, ini si ganteng sudah waktunya minum ASI" ujar suster sambil memindahkan Bima ke sisi Bintang.

"Saatnya belajar menyusui ya" ujar Ibu Melia mertua Bintang sambil membantu mengepaskan posisi cucunya.

    Merasa terganggu, suara tangis Bima menggema keseluruh ruangan.  Dengan sigap Bintang langsung memeluk mencoba menenangkan buah hatinya.
Bima menyusu dengan kuat seperti kehausan padahal beberapa saat yang lalu tertidur pulas.  Beberapa waktu sebelumnya Bintang mengikuti kelas perawatan bayi jadi sedikit banyak dia sudah bisa menangani kerewelan Bima.
"Anak bunda, kenapa nangis...haus ya" ujarnya mengajak sang jagoan bicara.

"Cepet Bive disusuin, kasian tuh nangisnya rame banget!" seru Bu Melia panik.

"Sebentar mam, Bintangkan masih belajar  apalagi Bima badan berat" bela Marsel menenangkan sambil memegang pundak sang ibu.

    Melihat Bima sudah mulai menyusu dengan nyaman Bu Melia juga merasa tenang, kekawatirannya sebagai nenek memang tidak beralasan ingin selalu ikut campur.  Tamu berdatangan silih berganti mengucapkan selamat atas kelahiran buah hati mereka.  Ruangan sudah mulai penuh dengan kado dan buah, seperti etalase toko sofapun berubah fungsi.  Mba Rima yang sedari tadi sibuk mengatur kado mengusulkan untuk membawa pulang kadonya.
"Tang, biar ga tambah sesak dibawa pulang aja ya sambil anter pulang mama."

"Ya udah bawa aja kasian juga orang pada ga bisa duduk" kata Bintang sambil menepuk-nepuk punggung Bima agar bersendawa.

"Oke ade tolong bantuin om bawa ke mobil ya" pinta Mba Rima kepada anak bungsunya.

Dengan sigap Marsel dan sang keponakan membawa kado ke mobil.

   Setelah semua pamit pulang tinggal mereka bertiga Marsel, Bintang dan juniornya Bima.  Keluarga kecil ini sedang menikmati kebahagiaannya dengan peran masing-masing sebagai ayah, ibu dan anak.
   Marsel tidak bisa membayangkan betapa dalam setahun kebahagiaan sambung menyambung menemuinya...selamat datang dihatiku...welcome to my heart Bintang dan Bima.