Minggu, 16 April 2017

MIYU-MIYU

"Pagi Bintang" suara itu terdengar serak.
Aku menoleh melihatnya tersenyum manis.

"Pagiii, Sel!" seruku senang melihatnya mulai pulih.

Kusibakan tirai jendela agar sinar mentari dan udara segar bisa masuk melalui jendela yang baru saja dibuka.  Secepatnya kuhampiri dia sambil menanyakan keadaannya dan diantara semangat ini,
"Adow...aduuuh sakit tau!" suara nyaring Icha yang mengaduh kesakitan.

Tanpa sadar kakiku menginjak tangan Icha yang sedang tidur di bawah ranjang Marsel.

"Yahh, maaf Cha...maaf!" seruku kaget.

Aku juga heran kenapa Icha bisa ada di kolong ranjang padahal tadi tidur di sofa.
Mendengar suara gaduh dan ketawanya Marsel, Bu Melia buru-buru keluar dari kamar mandi.

"Ada apa,sih!!" suaranya agak meninggi.

"Tangan Icha tadi ga sengaja keinjek" suara Bintang terdengar takut.

Bukannya memarahi Bintang, Bu Melia malah memarahi Icha yang punya hobi tidur serampangan.  Calon adik ipar ini memang terkenal tidurnya sambil pencak silat, awal tidur di ujung kiri kasur entah bagaimana caranya saat terbangun posisinya sudah ada sebelah kanan kasur dengan kepala menjuntai ke bawah mirip kasus pembunuhan.

   Sambil menahan tawa teringat mengapa semalam Bu Melia memaksa menyuruh Icha tidur sendiri di sofa sedangkan aku dan Bu Melia tidur beralaskan kasur lipat di lantai. 

"Udah cepetan bangun, terus mandi!" rentetan kemarahan Bu Melia kepada anak bungsunya.

"Ko bisa kamu ada di kolong, Cha?" tanyaku penasaran.

"Iya, tadi habis shalat subuh masih ngantuk jadi ketiduran di sejadah!" urainya sambil meringis menahan sakit.

Aku dan Marsel hanya bisa senyum sambil menggelengkan kepala melihat gaya sembrono anak manja ini.
Adiknya memang terpaut usianya sepuluh tahun dengan Marsel, wajar kalau selalu minta perhatian lebih. 

   Melihat Marsel sudah bisa berkomunikasi dengan baik membuat kami bertiga yang menjaganya sejak tiga hari yang lalu tidak merasa jenuh.

   Setelah kepergian ayahnya lima tahun yang lalu menjadikan Marsel tumpuan  karena dialah lelaki semata wayang di keluarganya.  Dengan melanjutkan usaha kontraktor peninggalan ayahnya, Marsel jatuh bangun memberikan yang terbaik untuk menghidupi ibu, adik dan puluhan karyawannya.  Alhamdulillah, kedua kakaknya sudah berkeluarga dan memiliki ekonomi yang baik.  Sehingga tidak menambah beban hidupnya.

    Pagi ini Dokter Agus sedang memeriksa kondisi Marsel.
"Alhamdulillah, dah bagus ko! Tetap jaga kesehatan, ya dan jangan terlalu cape mikir!" serunya tersenyum sambil menyuruh suster untuk menyiapkan administrasi untuk kepulangan Marsel.
Icha sibuk mengabari keluarganya kalau Marsel sudah di ijinkan pulang, jelas terlihat perasaan lega dan senang menyelimuti kami semua. 
 
   Setengah jam kemudian Mba Mey dan Mba Ii kakak keduanya yang menetap di  Bengkulu datang dengan membawa kedua anaknya.  Pintu terkuak dengan di iringi suara ramai kedua makhluk kecil ini.

"Assalamualaikum, Om Aseeel" ujar kedua keponakannya berlari ke arahnya.  Wajah Marsel terlihat sumringah di kelilingi keluarganya.  Dalam hati, aku mengagumi betapa Marsel hidup di sayang dan diperhatikan oleh orang-orang disekelilingnya hal ini adalah buah dari rasa cintanya yang tulus untuk orang-orang sekitarnya.

Mba Mey mengenalkan aku dengan Mba Ii dan kedua putra-putrinya.

"Hai tante Bintang!" ujar mereka bersamaan.

"Hai juga, namanya sapa sih?" tanya Bintang sambil berjongkok.

"Aku Aurora, terus ini ade" ujarnya sambil menunjuk  adiknya.

"Namanya bukan bukan ade, ka! Tapi Andre" jelas Mba Ii sambil merangkulku.

"Karena sering di panggil ade jadi dia pikir nama adiknya ade" jelasnya sambil melirik kedua bocah berusia tiga dan dua tahun.  Canda tawa keduanya meramaikan kamar ini. 

   Setengah hati Marsel menghabiskan makan siangnya,
"Ga enak, hambar ganti nasi padang aja deh!" ujarnya memelas.

"Ngawur aja lu, emangnye di hotel bisa pesen makanan enak!!" gerutu Mba Ii yang di sambut tawa kami semua.

"Makanya cepat sembuh, terus nikah jadi ada yang urusin" cecar Mba Mey sambil melirik kita berdua.

Sambil senyum-senyum Marsel menyolekku,
"Tuh, ditanyain ko diem aja."

Kalau sepi mau rasanya piring yang ku pegang ini mampir ke kepalanya.  Mereka semua tertawa melihat wajahku yang sudah tidak jelas warnanya karena di goda terus . 

  Semua bersiap-siap untuk meninggalkan kamar.  Tiba-tiba Aurora mendekati Marsel,
"Om, kaka baru inget".

"Apa ka?" tanya Marsel.

"Tante ini kan yang gambarnya ada di lemarinya om ya...?"  tanyanya lagi.

"Yang mana, ka?" tanya Marsel lagi sambil berusaha mengingat.

"Yang waktu itu kaka mo ambil terus om bilang ga boleh!" seru Aurora berusaha mengingatkan omnya.

"Yang mana yaa, Ka?" sahut Marsel lagi.

"Bener ko...yang ada tanduk terus giginya panjang keluar kaya setan!" serunya ngotot.
Kami terhenyak mendengar perkataannya lantas Mba Ii menimpali,
"Kaka salah kali!" Mba Ii berusaha mengalihkan rasa penasaran putrinya yang mewarisi ingatan tajam Angga papanya.

"Maaf ya Bintang!" ujarnya sambil memegang pundakku.

"Ga pa pa, Mba. Namanya juga anak-anak" jawabku datar sambil melirik Marsel yang meringis. Entah kesakitan atau malu karena ketahuan dosanya.

"Iya, waktu itu om bilang namanya Miyu-miyu karena suka marah-marah." jelasnya tanpa henti.

Aku hanya ngebatin, "awas ya!"

"Sudah-sudah, ayo kita pulang nanti keburu macet!" suara lembut Bu Melia mencoba mencairkan suasana.

"Mas, pulang pake mobil Bintang aja" ujar Marsel kepada ibunya.

"Bintang yakin bisa nyupir...ga kecapean?" tanya Mba Mey.

"Ga Mba" senyum Bintang berusaha meyakinkan Mba Mey dan yang lainnya.

Sepanjang perjalanan pulang Marsel berusaha membujuk Bintang bahwa itu hanya kekesalan sesaat. 

Dalam hatinya Bintang masih mencoba untuk menawar "untuk apa air matanya yang kemarin?".

Sabtu, 15 April 2017

INI PILIHANKU

Melalui telepon genggam ku hubungi Dewi manajer personalia untuk meminta ijin perpanjangan cuti selama tiga hari.  Dengan tidak banyak pertanyaan dia mengijinkan walau dengan berat hati dan terheran-heran.  Karena tidak biasanya aku meninggalkan pekerjaan dengan alasan apapun.  Sebagai sahabat yang sekaligus juga musuh bebuyutan dia khatam sekali dengan watak sejawatnya yang satu ini.  Untuknya hidup adalah kerja, kerja dan kerja.  Hingga seringkali Dewi mengingatkan sahabatnya untuk sesekali mengalihkan perhatian ke hal asmara.  Tetapi selalu saja jawaban asal keluar dari mulutku
"Belum ketemu yang sreg!".

   Di usianya yang sudah tiga puluh lima tahun harusnya sudah di sibukan dengan urusan rumah tangga seperti Dewi dan teman-teman kantor yang lain.  Tapi bukan Bintang namanya yang selalu berhitung dalam segala hal, hingga urusan asmarapun harus diperhitungkan secara maksimal.  Baru kali ini perasaannya tidak mengenal kata berhitung, sudah dua hari ini dia rela lahir batin menunggu Marsel di rumah sakit. 
  
    Perasaan bersalah selalu menyelimuti hatinya dan tanpa malu lagi Bintang mengeluarkan persediaan air matanya, yang selama ini dia simpan sejak kepergian ayah tersayang.  Terkenal sebagai puteri es karena di matanya tidak perlu cengeng menghadapi asmara.

  Justru sekarang semua berbalik menyerangnya dan tak sanggup mengusir semua perasaan yang selama ini di hindari.  
   
   Azan magrib membuyarkan lamunanku...bergegas kuhapus air mata yang sedari tadi membanjiri pipi.  Usapan lembut dari Bu Melia menguatkan hatiku, dua hari kebersamaan dengan keluarga Marsel membuatku merasa ada asa yang berbeda.  Berkali-kali kakak sulung Marsel, Mba Mey dan suaminya Mas Tok menyuruhku dan Bu Melia untuk istirahat di rumah. Tetapi kami berdua seakan tidak ingin kehilangan sedetikpun asa terhadap lelaki yang sama-sama kami sayang. 
  
   Menjelang pukul sepuluh malam suster yang merawat Marsel memanggil perwakilan keluarga.  Harap-harap cemas kami menanti Mas Tok keluar dari ICU, hingga akhirnya tidak sampai sepuluh menit kabar gembira kami terima...Marsel sudah siuman!  Dan kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah namaku...Bintang.

   Cinta perlu pengorbanan itu yang sering ku dengar, kini saatnyalah  cinta kami di uji mampukah aku melewati semua ini.  Inilah pilhanku...
   

Jumat, 14 April 2017

UMURKU BERAPA TAHUN LAGI, YA ALLAH?!

   Malam sudah mulai menjemput, rasa kantuk sudah tidak bisa di ajak kompromi.  Tetapi kejadian sore tadi membuatku bahagia hingga senyum selalu mengembang tiada henti di tambah lagi arjunaku rela menawarkan diri untuk mengantar pulang. Seperti bisa membaca situasi Mamanya menyuruh Marsel untuk mengantarku pulang dan mamanya di supiri Chika adiknya.   

   Sepanjang perjalanan entah kenapa kami tidak bisa bicara lepas seperti waktu awal bertemu, hanya suara Karimut penyiar Delta FM nyaring terdengar menyiarkankan lagu Takkan tergantikan milik Marchel.  Yang dulu sempat jadi lagu jadian dan bubaran kita, karena pacaran kita yang terbilang singkat satu jam saja.  Marsel yang menggantikan posisiku mengemudi hanya senyum-senyum sambil melirikku di sebelahnya.  Tersadar dengan situasi ini refleks kucubit tangannya.  Kita sama-sama tertawa mengenang kebodohan masing-masing tetapi justru mencairkan suasana. 
    Mobilku terhenti di salah satu rumah mungil di daerah kebun jeruk.  Rumah ini kubangun dengan semua tabungan hasil jerih payahku selama ini.  Sepintas ku lihat Marsel masih mengagumi setiap sudut rumah ini.  Ada kebanggan dalam diriku, sampai aku di kejutkan dengan suaranya yang memanggil tukang nasi goreng...baru tersadar aku juga belum makan dari tadi siang. 
"Maaf ya sampai lupa kalo punya tamu!" seruku  menahan malu.
"Ga papa, sudah tau ko!" jawabnya santai.
Aku memang punya kebiasaan entah bagus atau tidak selalu ingin diperhatikan dan sok perhatian...beda dengan Marsel yang cuek tetapi lebih tahu segala hal.

   Sampai akhirnya Marsel pamit pulang dengan menumpang ojek online. Masih kudengar suara Marsel di ujung telepon yang mengabarkan sudah sampai rumahnya.
    Subuh ini terasa sujudku semakin khusyu dengan berjuta rasa syukurku.  Kusambut hari ini dengan sebuah rencana bersama Marsel.  Teng jam sepuluh pagi ini Marsel menjemputku, terselip kebahagiaan melihatnya datang dengan tampilan kaus polo dan celana jins warna senada biru tua. 
    Dia mengajak sarapan sekaligus makan siang.."laper!" serunya.
Entah kenapa aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.  Pasar kaget di komplekku masih ramai, pedagang dadakan ini hanya berjualan hari Sabtu dan Minggu pagi.
   Sampai tiba-tiba seorang pencuri yang menaiki sepeda motor merebut telepon genggam Marsel dan mendorongnya dengan kencang sampai membentur trotoar jalan.  Aku berteriak histeris di tambah lagi ramainya suara kerumunan orang. Dibantu beberapa orang aku membawa Marsel ke rumah sakit terdekat. 
   Sambil menangis ku lihat Marsel yang masih ditangani tim medis. Dengan segala kepanikan aku berusaha menghubungi mamanya, dengan suara serak dia menyuruhku untuk tetap tenang dan menunggunya sampai datang.
    Sampai akhirnya keluarganya datang aku hanya bisa menangis memeluk Ibu Melia.  Salah seorang kakak Marsel mengajak kami untuk menunggu sambil shalat memohon kesembuhannya.
Air mata ini tak kunjung berhenti, permintaan maaf serta kesembuhan untul Marsel kupanjatkan kepada Sang Khalik dalam doaku ini. 
   Tujuh jam berlalu Marsel masih belum sadar,  hingga terlintas pikiran yang menggangguku.  Ya Allah, sampai kapan jodohku...dan berapa tahun lagi umurku?!
   

Kamis, 13 April 2017

CINTA NIRLABA

   Jalan masih sepi ketika ku lewati jembatan yang memisahkan antara perkampungan kadung gading menuju kota pandeglang, masih terlintas lambaian tangan dari keluarga Mang Diman melepas kepulanganku ke Jakarta.  Ada rasa berat meninggalkan mereka tetapi banyak juga pelajaran yang ku dapat dari keluarga sederhana ini kalau cinta dan kasih sayang yang merka miliki tidak berbilang tulus ikhlas.

   Tak terasa pintu tol Serang sudah di depan mata, baru ku sadari kalau tinggal selembar dua puluh ribuan yang masih parkir di dompetku. Untung baru masuk pintu tol, jadi ku niatkan untuk mampir di area peristirahatan.  Sengaja ku pilih area peristirahatan yang kedua agar lebih dekat dengan Jakarta dan bisa sekalian shalat Ashar sambil melepaskan kepenatan batin ini.   

   Baru beberapa langkah keluar masjid, tiba-tiba sesosok wajah yang tidak asing sedang berdiri menatapku. 
"Hai Bintang!" serunya sambil memamerkan barisan gigi putihnya.
"Marsel!" teriak ku kaget.
"Masih tetep jadi anak sholeh?" godanya.
"Ihh...jangan iseng deh!" seruku senang.
Marsel adalah teman tapi mesra dari sejak SMA sampai kuliah semester dua.  Lucu memang tapi kita berdua sama-sama tidak mau mengakui kalau kita saling suka. 

   Setengah jam sudah kita bernostalgia setelah hampir tujuh tahun tidak bertemu karena terpisah laut dan benua.  Marselpun tersadar ketika suara lembut seorang wanita memanggilnya. 
"Ya mam!" Langsung Marsel menghampiri wanita yang sedang menuju ke arahnya. Wanita baya ini langsung tersenyum dan memeluk  Bintang.
"Apa kabar!" sahut keduanya bersamaan.
"Alhamdulillah, tante" jawab Bintang.
Mereka bertiga bercerita menanyakan kabar masing-masing sambil tertawa mengenang masa lalu.
Tiba-tiba Bu Melia komentar
"Kayanya kalian berdua jodoh deh, habis sudah tahunan pisah masih sama-sama jomblo!"
Semburat merah  menghiasi wajah keduanya.  Keduanya bertatapan sambil tertawa dan  berujar bersamaan,
"Yang penting tulus ya tidak ambil keuntungan, emangnya waralaba!"
Bu Melia bingung melihat tingkah keduanya.  Marsel keceplosan ngomong
"Mam, dulu kita putus karena Bintang marah di bilang kaya waralaba padahal baru ikrar pacaran satu jam..semua selalu di hitung untung ruginya".
"Ohh...jadi sekarang sudah nirlaba dong?" tanya Bu Melia lagi sambil merangkul keduanya.
Hanya hati keduanyalah yang tahu. Cintanya waralaba atau nirlaba.

  

Rabu, 12 April 2017

Cintaku Untuk Siapa

   Hampir semalaman aku tidak bisa memejamkan mata, silih berganti masalah datang bagaikan cuplikan drama televisi yang sering tayang di chanel favoritku.  Karena lelah akhirnya mata ini terpejam juga.  Sayup-sayup ku dengar panggilan Allah melalui suara merdu muadzin  mengumandangkan adzan subuh.  Dengan setengah mengantuk ku paksa tubuh ini untuk mengambil air wudlu.  Basuhan air wudlu membuat mata dan tubuhku terasa segar meyambut hari pertama di awal tahun. 

   Gerakan sholat subuh ku anggap sebagai relaksasi dalam menenangkan pikiran dan tubuh.  Ku coba terapkan dalam hati untuk semangat menjalani hidup menyongsong tahun baru ini.

   Pagi ini sengaja aku luangkan waktu untuk berjalan-jalan menikmati sisa-sisa pedesaan di kampungku yang sudah terguras oleh simbol moderenisasi... entah makhluk apa itu.     
  
   Aku menemani Bi Eti ke pasar tradisional untuk membeli bahan-bahan yang akan di pakai untuk memasak hari ini.  Salah satunya ikan kembung yang akan di masak  sup ikan dengan kuah bening di celupin cabe rawit gendut dan tomat hijau...hmm maknyus rasanya.  Ini adalah menu favorit ayahku, teringat lagi akan wajah lelaki idamanku yang sedang menikmati sup ikan panas dan nasi yang masih mengepul.  Betapa cinta dan sayangnya aku pada ayah, lelaki idolaku yang belum ku temui dengan lelaki manapun.  Akibat terlalu terkesima dengan kekharismatikan ayahku makanya sampai saat ini aku masih betah melajang...
   Hiruk pikuk pasar rupanya bisa mengalihkan kenangan cintaku pada ayah.  Di tambah lagi suara cempreng Bi Eti yang nyaris menembus telinga membuatku tersadar kalau tawar menawar diantara Bi Eti dan tukang kue jejongkong belum ada kata sepakat. Permintaanku memang selama acara liburan ini suguhan makanan hanya yang berbau kampung.  Mumpung disini, kalau di Jakarta mau cari kemana?

   Kadang tidak habis pikiranku, kenapa bisa ya Mang Diman betah hidup didampingi Bi Eti yang cerewet, judes dan pelit.  Berbeda dengan kedua orangtuaku yang termasuk kategori pasutri ideal.  Jawaban santai Mang Diman karena cinta yang diberikan Bi Eti benar-benar tulus dalam mengabdikan hidupnya untuk keluarga.  Cinta tidak pakai logika itulah kalimat yang sering dikumandangkan.  Tetapi akal sehatku sering menentang,
"Emang mo makan pake cinta, mana kenyang!".
Buktinya Mang Diman dan Bi Eti yang ekonominya pas-pasan bisa bertahan. Di tambah harus menghidupi Teh Ina anak semata wayangnya dan lima orang cucu dari biang yang berbeda dan tidak tahu keberadaannya.  Alasan cinta pula yang membuat Mang Diman mengambil alih semua peran tanpa melihat untung rugi. Alasan sederhana semua karena cintanya yang besar kepada Allah Azza wazzala.     Kalau Mang Diman saja yang lulusan SD bisa memiliki cinta tanpa pamrih masa aku yang lulusan S2 akuntan dari negara Uncle Sam tidak lulus dalam urusan cinta!  Mau sampai kapan?
   Tepukan Mang Diman membuyarkan lamunanku.
"Makan dulu, yuk! Sudah matang tuh" sambil menunjuk ke arah meja makan.
Sambil berjalan bersisian ke arah meja makan Mang Diman berkata
"Hidup itu sederhana, neng. Jangan terlalu banyak ngitung...kita mah manusia cuma ngejalanin apa yang sudah di atur Allah. Ingat loh menikah itu sudah separuh dari ibadah kita" ujar Mang Diman bijak.
Sambil menarik kursi makan beliau melanjutkan perkataannya,
"Makanya si Ina jadi stres karena ibadah sudah abis di bagi-bagi! Orang nikah sekali aja sudah separuh apalagi tiga kali."
Aku hanya bisa senyum tak berarti sambil melihat Teh Ina yang sibuk menyuapi makan kelima anaknya.

Jagung Bakar 2

Jagung Bakar II

   Tiga puluh tahun berlalu, rindu akan suasana

 kampung halaman terasa memanggilku untuk 

pulang.  Suara Air sungai yang di selingi 

gemerisik pohon bambu menambah dalam 

rasa rindu ini.  Di tambah lagi aroma masakan 

yang masak mengunakan  hau atau kayu 

bakar.  Serasa lidah ini tidak bisa diam untuk 

mengunyah berbagai macam makanan yang di  
sodorkan kepadaku...semua serba alami ala 

alam pedesaan.  Tak terasa air mata ini 

menetes mengingat kenangan manis dengan 

orang-orang yang kini sudah tiada.
    
    Minggu pagi ini ku paksakan untuk 

mengunjungi tanah kelahiran kedua orang 

tuaku.  Dengan berbekal alamat salah seorang 

kerabat, demgan semangat 45 ku memacu 

Avanza kesayanganku.  Untung sudah ada 

jalan bebas hambatan walaupun

bebas sepenuhnya, tapi minimal bisa 

mempersingkat waktu dan tenaga kalau tidak 

mau sampai jam berapa sampai ke rumah teh 

Ina salah satu kerabatku yang terkenal ganjen 

dari kecil...gosipnya dia sudah 3 kali menikah!!!

"Oh my God! Gue aja satu belum dia sudah 

berkali-kali...hadeuh!" Senewen juga kalau 

ingat ceritanya.
   
   Jam di dasbor mobil sudah menunjukan 

angka 8.45 berarti tinggal sesaat lagi sampai .  
Sudah banyak perubahan yang terlihat, sambil 

istirahat sejenak ku parkir mobil di salah satu 

minimart yang banyak menjamur saat ini. 

 Keluar dari minimart tersebut tidak sengaja 

mataku tertuju pada seorang lelaki tua yang 

menjual jagung untuk di bakar. Mengingat 

besok akan pergantian tahun, dan seperti 

biasa acara bakar jagung dan bakar kembang 

api menjadi tradisi.  Ku dekati bapak tua itu 

yang asyik ngobrol dengan beberapa supir 

truk.

"Berapa harga jagungnya, Pak?" tanyaku.

"10 biji dua puluh ribu aja, Neng!" sautnya.

"Mahal amat pak!" gerutuku.

"Kalo mau enak usaha jagung bakar sendiri, 

Neng" seru beberapa supir truk kompak.

Melihat situasi yang kurang nyaman langsung 

aku berlalu tanpa melihat si penjual jagung.

   Sesampainya di rumah teh Ina dengan 

sedikit basa-basi ku ceritakan kejadian tadi 

yang bikin telinga panas...tak di sangka teh Ina

 dan Mang Darmin ayahnya teh Ina tertawa. 

 Langsung saja ku cecar dengan pertanyaan, 

mengapa mereka tertawa.

Mang Darmin menerangkan bahwa di 

kampung kami ada istilah produksi jagung 

bakar yang artinya "janda tanggung baru 

mekar"...langsung merah padam 

mendengarnya. Entah siapa yang memulainya

tetapi sekarang daerah kami terkenal dengan 

istilah itu. Hadeuh..!

Selasa, 11 April 2017

Jagung Bakar 1

Jagung Bakar


 Waktu aku masih kecil setiap lebaran hari kedua, keluargaku punya tradisi pulang kampung.  Maklum di kampung masih ada wanita spesial yang wajib dan kudu di sungkemin.  Mbu, panggilan sayang kami anak cucunya kepada wanita yang amat sangat di cintai oleh ayahku.   Wanita yang bernama Sukaesih adalah Ibu kandungnya, rasa hormat dan sayang ayah kepada Mbu memang sangat jauh bila di bandingkan dengan adik-adiknya yang lain.  Walaupun Mbu tidak tinggal serumah dengan anak-anaknya namun bukan berarti ayah dan adik-adiknya tidak pernah pengajak untuk tinggal serumah.  Dari cara halus sampai ancaman sudah di lakukan namun tetap saja Mbu lebih memilih untuk tinggal di rumah peninggalan Mbah, sebutan untuk almarhum suami tercinta.  Mbu selalu bilang tidak ingin merepotkan siapapun kalaupun harus menginap di rumah anak-anaknya tidak lebih dari tiga hari.  Bisa di bayangkan waktu itu awal tahun 90an belum ada jalan tol, betapa hebohnya perjalanan dari Menes-Jakarta sepanjang 150 km untuk usia 85 tahun.

   Pernah suatu kali ayahku di telepon tetangga yang mengabari kalau Mbu demam tinggi,  mengingat ini situasi genting tanpa panjang lebar ayahku langsung   meninggalkan pekerjaannya demi menemui belahan jiwanya. Dengan di dampingi ibu, ayah berusaha untuk tenang sambil tidak hentinya berdo'a agar tidak ada sesuatu yang di menakutkan.  empat jam kemudian ayah dan ibu sudah sampai di tempat tujuan, sudah banyak tetangga yang berkumpul.  Dengan perasaan dag dig dug, ayah mengusap wajah Mbu sambil mencium tangannya.  Tiba-tiba Mbu terbangun sambil bertanya dengan nada tinggi 
"Jagungnya mana!"
"Jagung apa, Bu?" tanya ayah.
"Jagung bakar!" seru Mbu lagi.
Dengan wajah panik ayah berusaha mencari tahu, kemudian mang Engkus yang biasa menjaga rumah Mbu menerangkan bahwa sudah 3 hari Mbu minta jagung bakar.  Ibuku tidak kalah emosi,
"Kenapa ga di beliin, nanti juga di ganti uangnya!"
Dengan wajah lesu Mang Engkus menjawab, "Bukan ga mau beliin teh, tapi gimana makannya!".
Ayah, ibu dan tetangga yang berada di dekat Mbu terdiam semua. Tiba-tiba semua berpaling ke arah adikku yang sedang tertawa geli,
"Gimana Mbu mau makan jagung bakar, kan giginya Mbu ompong!" seru adikku.
Akhirnya kami semua tertawa  menyadari hal itu.